Sabtu, 25 Februari 2012

PEMILU RAYA ALA POLITIK KAMPUS


Penulis : Irma Yulianti                   

Politik kampus layaknya miniatur politik negara menunjukkan eksistensi mahasiswa sebagai  calon cendekiawan, pahlawan, dan negarawan.    

Sekilas ada pemandangan yang tampak berbeda dari biasanya ketika memasuki lingkungan kampus UNJ. Kondisi lingkungan UNJ dihari-hari biasa yang sepi dari hiruk-pikuk  mahasiswa berseliweran meneriakkan yel-yel atau visi misi  disebuah acara bertemakan ”pemilihan”. Ya itulah pemandangan yang kini sedang menjadi topik hangat mengenai maraknya Pemilu di UNJ yang memilih presiden BEM Jurusan-Fakultas-Universitas. Dinding-dinding dihias dengan sejumlah famlet-famlet disana sini yang terpampang foto calon ketua dan wakil ketua BEM Jurusan-Fakultas-Universitas disertai ”obral” visi misi dan janji-janji para kandidat. Spanduk pun tak mau kalah ramainya mewarnai gairah gelaran pesta pemilu raya ala politik kampus.
Politik kampus dalam penyelenggaraan pemilu raya  para kandidat berlomba-lomba bersaing memperebutkan kursi jabatan sebagai ketua BEM layaknya miniatur politik negara yang memilih presiden dan wapres. Namun, tentu ada perbedaan yang mendasar antara politik kampus dengan politik negara. Perbedaannya terletak pada tataran praktis kepentingan politik dalam persaingan memperebutkan sebuah jabatan. Dalam politik negara, praktik money politic kerap kali mewarnai persaingan memperebutkan kursi kekuasaan. Bahkan suap menyuap pun dilakoninya demi kepuasan individualis. Sedangkan dalam politik kampus,  praktik  tersebut jarang sekali ditemui. Jangankan untuk menyuap orang lain, untuk makan sehari-hari saja di kantin rasanya masih sulit dan bahkan terkadang masih berhutang dengan teman. Maklum mahasiswa!. Mahasiswa memang bukanlah orang yang mempunyai kekayaan melimpah.
Pemilu raya ala politik kampus yang memilih ketua Bem Fakultas-Jurusan-Universitas, tampak begitu semarak yang diselenggarakan oleh KPU badan legislatif mahasiswa. Pemandangan tampak berbeda ketika memasuki lingkungan lobby fakultas-fakultas yang ada di Universitas Negeri Jakarta ini tergambar bagaimana ramainya para panitia penyelenggara KPU serta nampak beberapa pemandangan kotak-kotak suara terpampang denga rapi.
Kerapkali para panitia menyuruh teman-temannya untuk segera menyoblos para kandidat.Terkesan agak dipaksakan, padahal calon-calon para kandidatnya pun tidak banyak diketahui oleh semua mahasiswa. Bagaimana mahasiswa mau memilih toh mereka tidak tahu siapa saja calon-calonnya. Bagaimana mereka mau memilih kalau mereka saja tidak mengenal  dekat mengenai kemampuan para kandidat. Mungkin bagi mereka yang tidak berkecimpung di dunia organisasi mungkin hanya mengetahui para kandidat melalui spanduk-spanduk dan famlet-famlet yang terpampang lebar dijalan–jalan. Itulah sebabnya mereka enggan untuk memilih. Lain halnya dengan mahasiswa-mahasiswa yang berkecimpung di dunia organisasi, mereka inilah yang kemudian banyak menjadi golongan pemilih. Karena mereka mungkin lebih banyak tahu mengenai para kandidat ini.
Inilah yang menjadi sebuah permasalahan kita semua sebagai mahasiswa UNJ khususnya para birokrat organisasi pemerintahan mahasiswa maupun organisasi legislatif mahasiswa. Perlu adanya resolusi permasalahan yang harus diselesaikan bersama mencari perbaikan ke arah yang lebih baik. Agar pemilu raya mendatang lebih hidup lagi dengan calon-calon pemimpin yang agamis dan berintelektual tinggi serta dikenal semua mahasiswa. Karena bagaimana pun juga seorang pemimpin adalah memimpin yang membawa aspirasi teman-teman mahasiswanya serta memperjuangkan suara-suara mahasiswa.
Kita butuh pemimpin yang profesional dalam bekerja, berdedikasi tinggi demi kepentingan sesama serta menampung aspirasi-aspirasi mahasiswa. Membongkar birokrasi kampus yang tertutup dan menuntut tegaknya keadilan serta transparansi.
Pada akhirnya, siapapun pemerintahan yang terpilih semoga mampu membumikan  lebih inten semangat ” ruh” budaya ilmiah dikalangan mahasiswa. Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat berjuang insan pembawa perubahan!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar